Beranda | Artikel
Fatwa Ulama: Kapan dan Berapa Kali Disunahkan Membaca Tahlil?
9 jam lalu

Fatwa Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah

 

Pertanyaan:

Samahatus Syaikh, dalam kitab Anda, yaitu Tuhfatul Akhyar, Anda menyebutkan bahwa disyariatkan bagi setiap Muslim pada setiap pagi untuk mengucapkan,

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

sebanyak 100 kali dalam sehari. Pertanyaannya, apakah boleh mengucapkannya lebih dari 100 kali? Dan bolehkah mengucapkan zikir ini di waktu petang?

Jawaban: 

Benar, disyariatkan untuk memperbanyak berzikir kepada Allah di setiap waktu, meskipun hingga ribuan kali. Akan tetapi, yang kami sebutkan dalam kitab tersebut adalah sabda Nabi ,

مَن قال في يومٍ مئة مرة: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك، وله الحمد، وهو على كل شيء قدير؛ كانت له عدل عشر رقاب – يعني: عدل عشر رقابٍ يعتقها- وكتب الله له مئة حسنة، ومحا عنه مئة سيئة، وكان في حرزٍ من الشيطان في يومه ذلك حتى يُمسي، ولم يأتِ أحدٌ بأفضل مما جاء به، إلَّا رجلٌ عمل أكثر من عمله

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, Allah mencatat seratus kebaikan untuknya, juga menghapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengerjakan lebih banyak dari amalannya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim).*

Ini adalah hadis yang agung. Apabila seseorang mengucapkannya di awal hari, maka lebih sempurna agar ia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang. Meskipun ia mengucapkannya di waktu duha, zuhur, asar, maupun di malam hari, semuanya baik. Dan meskipun dia mengucapkannya ribuan kali, semua itu juga merupakan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman, 

وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا

“Dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya..” (QS Al-Jumuah: 10) 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ۝ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak. Dan bertasbihlah kepada-Nya baik di pagi hari maupun di sore hari.” (QS Al-Ahzab: 41–42) 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ … وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat…” hingga firman-Nya, “dan laki-laki maupun perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al-Ahzab: 35)

Dengan demikian, zikir itu memiliki kedudukan yang agung.

– Fatwa Selesai [1]

Baca juga: Kalimat Lailahaillallah: Kalimat Zikir yang Paling Utama

Catatan penerjemah:

Lafaz hadis yang dikutip oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah dalam fatwa di atas tidak sama persis dengan lafaz yang terdapat dalam riwayat Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, meskipun maknanya tetap sama. Adapun hasil telaah terhadap riwayat tersebut adalah sebagai berikut,

مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريك له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ. في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ، كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَ له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ إلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أكثَرَ منه

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya.” [2]

أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شَيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِئةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِئةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِئةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ بأفضَلَ ممَّا جاءَ به إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” [3]

مَن قال: لا إلَهَ إلَّا اللهُ وحدَه لا شَريكَ له، له المُلكُ وله الحَمدُ، وهو على كُلِّ شيءٍ قديرٌ، في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ؛ كانَت له عَدلَ عَشرِ رِقابٍ، وكُتِبَت له مِائةُ حَسَنةٍ، ومُحيَت عنه مِائةُ سَيِّئةٍ، وكانَت له حِرزًا مِنَ الشَّيطانِ يَومَه ذلك حتَّى يُمسيَ، ولم يَأتِ أحَدٌ أفضَلَ ممَّا جاءَ به، إلَّا أحَدٌ عَمِلَ أكثَرَ مِن ذلك، ومَن قال: سُبحانَ اللهِ وبحَمدِه في يَومٍ مِائةَ مَرَّةٍ، حُطَّت خَطاياه ولو كانَت مِثلَ زَبَدِ البَحرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti membebaskan sepuluh hamba sahaya, dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus kesalahannya, dan dia berada dalam perlindungan dari setan pada hari itu hingga petang, serta tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih utama dari apa yang dia bawa kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ sebanyak seratus kali dalam sehari, dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.” [4]

Sedangkan lafaz مِنْ عَمَلِهِ dijumpai pada hadis berikut,

مَنْ قال في كلِّ يومٍ مئةَ مَرَّةٍ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وحْدَهُ لا شريكَ لهُ لهُ الملكُ ولهُ الحمدُ وهوَ على كلِّ شيءٍ قديرٌ لمْ يَسْبِقْهُ أحدٌ كان قبلَهُ ولا يُدْرِكُهُ أحدٌ كان بعدَهُ إلَّا مَنْ عَمِلَ بِأفضلَ من عَمَلِه

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ sebanyak seratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorang pun dari orang-orang sebelumnya yang mengunggulinya, dan tidak ada seorang pun dari orang-orang sesudahnya yang akan menyamainya, kecuali orang yang mengerjakan amalan yang lebih utama dari amalannya.” [5]

Perbedaan redaksi seperti ini merupakan hal yang dikenal dalam periwayatan hadis dan tidak mempengaruhi makna maupun hukum yang dikandungnya. Seluruh riwayat tersebut menunjukkan keutamaan membaca tahlil seratus kali dalam sehari. 

Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, dan Takbir pada Zikir Setelah Salat

***

Penerjemah: Reza Mahendra

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 290: 34, https://binbaz.org.sa/fatwas/3714/ما-السنة-في-وقت-وعدد-ذكر-التهليل 

[2] HR. Al-Bukhari no. 6403.

[3] HR. Al-Bukhari no. 3293.

[4] HR. Muslim no. 2691.

[5] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra no. 10335 dan Ahmad no. 7005, sanadnya dinilai jayyid oleh Al-’Iraqi dalam Takhrij Al-Ihya’, 1: 395.


Artikel asli: https://muslim.or.id/115642-kapan-dan-berapa-kali-disunnahkan-membaca-tahlil.html